![]() |
| Foto: Heru Sudjanto |
Sebagai rutinitas, setelah dibuka oleh pembawa acara, Bpk. Ponimin selaku imamudin memimpin pembacaan dzikir pinuwunan diikuti seluruh hadirin. Setelahnya adalah jeda istirahat guna menikmati hidangan dari tuan rumah berupa segelas teh panas dan snack.
Sebagai guru ngaji malam itu, terjadwal adalah Bpk. Muhammad Thoyib dari Sawahan. Namun karena saat itu posisi beliau masih di perjalanan, maka sebagai pengganti adalah puteranya, Bpk. Misbahul Ulum. Pak Misbah menyampaikan materi terkait Hakikat Syukur dan Keimanan. Secara lebih rinci, berikut ringksan ceramah pak Misbah :
1. Landasan Utama dan Pengertian Syukur
Janji dan Peringatan Allah: Mengacu pada Surah Ibrahim ayat 7, barang siapa yang bersyukur atas nikmat Allah maka nikmatnya akan ditambah, namun jika mengingkari (kufur), maka azab Allah sangat pedih.
Hakikat Syukur: Syukur adalah kesadaran batin bahwa seluruh nikmat yang diterima dan dirasakan bersumber murni dari Allah SWT, yang diiringi dengan pujian kepada-Nya.
Bahaya Kufur Nikmat: Kufur nikmat terjadi ketika seseorang tidak menyadari pemberian Allah, tidak menghargai nikmat, atau menjadikan nikmat tersebut sebagai pemicu kesombongan, keangkuhan, dan rasa bangga diri.
2. Ukuran Nikmat dan Memerhatikan Keadaan Sesama
Tidak Diukur dari Kemewahan Fisik: Besarnya nikmat tidak dinilai dari ukuran materi, kemewahan rumah, atau jenis makanan, melainkan dari rasa cukup (qana'ah) dan penerimaan dalam hati.
Pesan Hadis Nabi: Seseorang yang tidak mampu bersyukur atas nikmat yang sedikit tidak akan sanggup bersyukur atas nikmat yang banyak.
Melihat ke Bawah: Diajarkan untuk selalu melihat orang-orang yang hidupnya lebih sulit agar dapat menyadari betapa banyaknya nikmat yang telah diterima dan terhindar dari sifat meremehkan pemberian Allah.
3. Nikmat Sebagai Modal Kebaikan
Sarana Beramal: Nikmat tidak hanya untuk dinikmati sendiri, melainkan harus dijadikan modal untuk melakukan kebaikan yang lebih tinggi, seperti bersedekah dan membantu orang lain.
Menjaga Batin dan Lisan: Bentuk syukur juga diwujudkan dengan menjaga lisan dan hati dari sifat iri, prasangka buruk, serta prasangka negatif ketika melihat kenikmatan atau keberhasilan orang lain.
4. Tiga Unsur Syukur (Perspektif Kitab Ihya Ulumuddin)
Ilmu: Pemahaman akal bahwa segala nikmat berasal dari Allah. Ketika nikmat itu diambil atau diganti dengan cobaan, hamba tersebut tetap berserah diri dan kembali kepada Allah.
Hal (Kondisi Hati): Menghadirkan rasa cinta, kebahagiaan, dan rasa dekat kepada Allah di dalam hati atas segala pemberian-Nya.
Amal (Perbuatan): Puncak dari rasa syukur yang diwujudkan melalui tindakan nyata dan perilaku kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
5. Puncak Kualitas Syukur
Istikamah di Kala Senang dan Susah: Tingkat syukur tertinggi adalah kemampuan seseorang untuk tetap bersyukur dan berbuat baik tidak hanya saat menerima kesenangan atau kelapangan, tetapi juga ketika berada dalam kondisi sulit dan diuji penderitaan.
Di akhir acara, Bpk. Rudi Santosa selaku pembawa acara menyampaikan peroleh infak sebesar Rp. 130.000,00. Sedangkan yang mendapat undian arisan adalah Bpk. Moh. Yasin di Ngentak RT 04.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar