Terjadwal sebagai pamateri sore itu adalah Bpk. Heru Sudjanto. Dalam uraiannya, pak Heru menyampaikan kultum dengan tema Menakar Diri di Penghujung Ramadhan. Ibarat sebuah perlombaan lari, kita sekarang berada di 100 meter terakhir. Ada yang semakin kencang berlari, ada yang mulai kehabisan nafas, dan ada pula yang sudah berhenti sebelum garis finish.
Secara garis besar, para ulama membagi manusia di akhir Ramadhan menjadi tiga golongan. Mari kita bercermin, kita termasuk yang mana?
1. Golongan Al-Faizin (Para Pemenang)
Mereka adalah orang-orang yang menganggap akhir Ramadhan sebagai puncak ibadah. Semakin dekat hari perpisahan, semakin mereka bersedih dan semakin giat beribadah.
Cirinya: Meningkatkan intensitas itikaf, tilawah, dan sedekah.
Prinsipnya: Mereka takut amalnya tidak diterima, sehingga mereka menutup Ramadhan dengan istighfar dan taubat yang tulus.
2. Golongan Al-Makhdzul (Orang yang Merugi)
Mereka adalah orang-orang yang memulai Ramadhan dengan semangat, namun layu di tengah jalan. Fokus mereka beralih dari masjid ke pasar, dari tadarus ke persiapan hura-hura lebaran yang berlebihan.
Cirinya: Kehilangan ruh Ramadhan sebelum bulannya berakhir. Ibadahnya menurun drastis karena merasa sudah cukup dengan amalan di awal bulan.
3. Golongan Al-Mahrum (Orang yang Terhalang)
Inilah golongan yang paling malang. Mereka melewati Ramadhan, namun tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lapar dan dahaga.
Cirinya: Tidak ada perubahan perilaku. Lisan tetap mencela, mata tetap tidak terjaga, dan hati tetap kotor. Sebagaimana sabda Nabi SAW: "Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga." (HR. Ahmad)
Kesimpulan dan Penutup
Akhir Ramadhan bukanlah akhir dari ketaatan, melainkan awal dari pembuktian apakah madrasah Ramadhan berhasil mengubah kita. Indikator diterimanya amal shaleh adalah hadirnya amal shaleh berikutnya. Jika setelah Ramadhan kita menjadi pribadi yang lebih menjaga shalat berjamaah dan lebih peduli sesama, maka itulah tanda kemenangan yang nyata. Jangan biarkan air mata perpisahan dengan Ramadhan hanya menjadi hiasan, tapi jadikan ia bahan bakar untuk istiqomah di bulan-bulan berikutnya.






