Di tengah cuaca kering musim kemarau berkepanjangan, jamaah Sabilul Huda tetap bersemangat mengikuti pengajian. Hal ini terbukti pada hari Ahad 11 Oktober 2026 pukul 19.45 WIB. Mereka merapat ke rumah Ibu Hadi Pawiro (ibu Karjan) sejak bada Isya.
Seperti biasanya, acara diawali dengan pembacaan dzikir tahlil yang dipimpin Bpk. Ponimin selaku imamudin kampung Ngentak dan Dolikan. Setelahnya, acara rehat sejenak guna menikmati hidangan snack dan segelas minuman.
![]() |
| Foto: Heru Sudjanto |
Sebagai guru ngaji malam itu, sebenarnya adalah Bpk Muhammad Thoha dari Santan. Namun karena sedang tidak enak badan, maka beliau ijin tidak dapat hadir. Sebagai gantinya adalah Bpk. Wahyudi dari Miri. Secara garis besar, beliau menyampaikan pesan spiritual mengenai pentingnya menyikapi ujian hidup dengan kesabaran dan tawakal. Dalam penyampaiannya yang diselingi dengan bahasa dan kelakar khas Jawa, Pak Wahyudi menjelaskan sebagai berikut :
- Menghadapi Keluh Kesah Hidup: Penceramah mengingatkan pencerah/pendengar agar tidak terus-menerus mengeluh (sambat) atau merasa pusing/buntu (judeg) saat menghadapi persoalan hidup.
- Menjauhi Rasa Putus Asa: Kelakar "nglalu nang wit ceplukan" (mengakhiri hidup di pohon ceplokan yang kerdil/tidak mungkin) digunakan sebagai sindiran halus agar umat tidak pernah berputus asa atau mengambil jalan pintas yang tidak masuk akal saat tertimpa ujian.
- Seruan Berdoa dan Bertawakal: Penceramah mengajak untuk senantiasa mendekatkan diri, berdoa, serta memohon petunjuk dan kelapangan dada kepada Allah SWT di setiap situasi sulit.
Di akhir acara, Bpk. Rudi Santosa selaku pembawa acara menyampaikan beberapa informasi, yakni:
- Perolehan infak malam itu sebesar Rp. 140.000,00
- Yang mendapatkan undian arisan Ibu Novi di Dolikan
- Pengajian berikutnya diundur hari Ahad, 25 Oktober 2026 karena bersamaan beberapa acara kampung





