Sudah menjadi tradisi setiap akhir bulan Ramadhan, warga kampung Ngentak RT 04 menyelenggarakan kenduri kupat. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Kamis 19 Maret 2026 pukul 18.00 WIB usai sholat Maghrib di serambi masjid Al-Istiqomah. Acara dipimpin langsung oleh Bpk. Ponimin selaku imamudin.
 |
| Foto: Heru Sudjanto |
Kenduri kupat merupakan tradisi masyarakat Jawa yang dilaksanakan pada akhir bulan Ramadhan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri. Tradisi ini memiliki nilai religius, sosial, dan budaya yang kuat.
Secara umum, kenduri kupat dilakukan dengan cara berkumpulnya warga untuk berdoa bersama, dilanjutkan dengan makan bersama hidangan utama berupa kupat (ketupat). Kupat yang terbuat dari beras dan dibungkus anyaman janur memiliki makna simbolis, yaitu sebagai lambang kesucian, pengakuan kesalahan, dan harapan untuk kembali kepada fitrah.
Dalam pemaknaan filosofis Jawa, “kupat” sering diartikan sebagai “ngaku lepat” (mengakui kesalahan). Hal ini sejalan dengan momentum akhir Ramadhan yang menjadi waktu untuk introspeksi diri, saling memaafkan, dan memperbaiki hubungan antar sesama.
Kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga, meningkatkan kebersamaan, serta menumbuhkan kepedulian sosial. Biasanya, kenduri dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh setempat, dengan rangkaian doa sebagai ungkapan syukur atas selesainya ibadah puasa.
Dengan demikian, kenduri kupat bukan sekadar tradisi makan bersama, tetapi merupakan wujud syukur, sarana mempererat ukhuwah, serta pengingat untuk kembali kepada nilai-nilai kebaikan setelah menjalani ibadah Ramadhan.