10 Maret 2026

Takjilan Hari ke-21

Foto: Heru Sudjanto
Memasuki 10 hari terakhir Ramadan itu rasanya campur aduk: sedih karena bulan suci akan segera berlalu, tapi semangat karena ada peluang Lailatul Qadar. Di hari ke-21 ibadah puasa ini, sebagai pengisi kultum menjelang berbuka di masjid Al-Istiqomah adalah Bpk. Samidjo. Beliau terjadwal setiap hari Selasa.

Usai kultum, jamaah mengerjakan sholat Maghrib bersama, dilanjutkan dengan menikmati hidangan soto beserta gorengan dan krupuk rambak. Mantapppp.....

09 Maret 2026

Kenduren Malam Selikuran

Foto: Heru Sudjanto

Senin, 9 Maret 2026, warga RT 04 melaksanakan kegiatan kenduri sedekah 21-an yang bertempat di Masjid Al Istiqomah. Kegiatan dimulai pada pukul 18.00 WIB atau setelah salat Magrib. Acara ini dihadiri oleh bapak-bapak warga RT 04 yang berkumpul dalam suasana kebersamaan dan kekeluargaan.

Kegiatan diawali dengan pembukaan dan pembacaan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Selanjutnya dilaksanakan doa untuk keselamatan, keberkahan, serta kebaikan bagi seluruh warga. Setelah rangkaian doa selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama hidangan kenduri yang telah disiapkan.

Kegiatan kenduri sedekah 21-an ini menjadi salah satu tradisi kebersamaan warga yang bertujuan mempererat tali silaturahmi, meningkatkan rasa kebersamaan, serta menumbuhkan nilai gotong royong di lingkungan masyarakat. Acara berlangsung dengan khidmat dan penuh keakraban hingga selesai.

Takjilan Hari ke-20

Foto: Heru Sudjanto
Menginjak hari ke-20 ibadah puasa Ramadhan, hari Senin 9 Maret 2026, terjadwal sebagai pengisi kultum menjelang berbuka di masjid Al-Istiqomah adalah Bpk. Sudiro. Ini adalah jadwal ketiga. Dalam uraiannya, pak Diro menyampaikan tema menghargai Waktu dan Mengingat Allah

1. Pentingnya Menghargai Waktu dan Amal Baik

Pesan utama diawali dengan sebuah perenungan agar kita tidak menunggu "sumur menjadi kering" baru menghargai air. Hal ini merefleksikan kehidupan manusia di mana masa lalu tidak mungkin kembali.

  • Segerakan Kebaikan: Jangan menunda berbuat baik karena waktu terus berjalan.
  • Tunda Keburukan: Jika berniat buruk, tunda hingga esok hari (sebagai bentuk pencegahan).
  • Definisi Orang Terbaik: Berdasarkan hadis Nabi SAW, orang yang paling baik adalah yang panjang umurnya dan baik pula amal perbuatannya.

2. Bergantung pada Zikir dan Syariat

Ketika seorang Arab Badui merasa syariat Islam terlalu banyak untuk dipelajari satu per satu, Rasulullah SAW memberikan satu wasiat utama untuk diamalkan:

  • Basahi Lidah dengan Zikir: Hendaknya lisan senantiasa basah karena berzikir mengingat Allah.
  • Nikmat Terbesar: Dari sekian banyak nikmat Allah yang tidak terhitung, umur adalah karunia yang paling besar.
  • Hakikat Kebahagiaan: Kebahagiaan sejati tercapai ketika hati selalu merasa bersama Allah dalam segala keadaan (kaya, miskin, lapang, maupun sempit).

3. Al-Qur'an sebagai Petunjuk Hidup

Umar bin Khattab mengingatkan bahwa Al-Qur'an adalah kalam Allah yang harus diletakkan di tempat yang mulia dan tidak boleh ditafsirkan menurut hawa nafsu.

  • Perumpamaan Kota Asing: Hidup diibaratkan rombongan orang asing di sebuah kota yang diberi buku petunjuk (Al-Qur'an) dan pemandu (Rasulullah).
  • Konsekuensi: Siapa pun yang mengacuhkan petunjuk tersebut pasti akan tersesat dalam perjalanan hidupnya.Kesimpulan:

Kultum ditutup dengan ajakan untuk menjauhi rasa iri hati terhadap kesuksesan orang lain agar berhasil di dunia dan akhirat, serta doa agar segala amal dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Usai sholat Maghrib berjamaah, acara berikutnya adalah santap bersama dengan menu soto yang segarrrrr.....

08 Maret 2026

Takjilan Hari ke-19

Foto: Heru Sudjanto
Ahad 8 Maret 2026 atau hari ke-19 puasa Ramadhan terasa sangat berat. Hal ini dikarenakan cuaca yang cukup terik sejak pagi hingga sore. Namun kondisi tersebut tidaklah menjadi halangan bagi jamaah masjid Al-Istiqomah tetap hadir mengikuti kultum menjelang berbuka. Sore itu, sebagai pemateri adalah Bpk. Abdul Rokhimin.

Dalam uraiannya, Pak Min menyampaikan pentingnya sikap istiqomah pasca bulan Ramadhan. Beliau menekankan bahwa bulan Ramadhan adalah masa penggemblengan atau pelatihan bagi umat Muslim agar mencapai derajat takwa. Diantara :

  1. Ramadhan sebagai Kawah Candradimuka: Bulan ini merupakan waktu untuk "digembleng" dan "ditatar" agar seseorang dapat memperbaiki diri.
  2. Pentingnya Peningkatan Diri: Seseorang dianggap merugi atau "bangkrut" jika setelah Ramadhan tidak ada peningkatan kualitas diri dan justru kembali ke kebiasaan buruk.
  3. Menjaga Konsistensi (Istiqomah): Kualitas ibadah, shalat, dan perilaku baik harus tetap dijaga meski Ramadhan telah usai. Jangan sampai terjebak dalam euforia "balas dendam" (seperti hanya fokus makan enak atau jajan) setelah berpuasa, melainkan tetap menjaga sifat tawaduk dan pengendalian diri.
  4. Kehidupan Bermasyarakat: Perbaikan diri yang dilakukan selama Ramadhan harus tercermin dalam cara bersikap dan menyayangi sesama di dalam kehidupan bermasyarakat.
Di penghujung kultum diakhiri dengan ajakan untuk berdoa bersama sebelum berbuka puasa

07 Maret 2026

Takjilan Hari ke-18

Foto: Heru Sudjanto
Ahad, 7 Maret 2026 bertepatan dengan hari ke-18 ibadah puasa Ramadhan di kampung Ngentak. Sejak pagi hingga sore cuaca cukup terik. Bagi yang menjalankan puasa tentu terasa sekali. Namun menjelang berbuka tiba-tiba gerimis dilanjutkan hujan deras meskipun hanya sesaat. Subhanallah, Allah SWT Maha Kuasa membolak-balikkan cuaca. 

Jamaah masjid Al-Istiqomahpun tidak lantas mager. Mereka tetap hadir guna menyimak kultum dilanjutkan berbuka puasa bersama. Sesuai jadwal setiap hari Sabtu, sedianya yang memberikan materi adalah Bpk. Abdul Rokhimin. Namun karena bersamaan acara, digantikan oleh Bpk. Heru Sudjanto. Dalam uraiannya, Pak Heru menjelaskan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan istimewa yang Allah jadikan sebagai bulan tarbiyah (pendidikan) untuk membentuk manusia agar mencapai derajat takwa melalui ibadah puasa. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mendidik manusia agar menjadi pribadi yang lebih baik. 

Dalam Ramadhan terdapat empat bentuk pendidikan utama:

  1. Tarbiyah ruhiyah (spiritual) – Puasa menumbuhkan kesadaran kepada Allah dan melatih keikhlasan serta kejujuran dalam beribadah.
  2. Tarbiyah nafsiyah (pengendalian diri) – Melatih manusia menahan hawa nafsu, menjaga lisan, dan memperbaiki akhlak.
  3. Tarbiyah ‘ailiyah (keluarga) – Ramadhan mempererat hubungan keluarga melalui sahur, berbuka, shalat berjamaah, dan membaca Al-Qur’an bersama.
  4. Tarbiyah ijtima’iyah (sosial) – Menumbuhkan kepedulian terhadap sesama melalui zakat, infak, dan sedekah kepada kaum yang membutuhkan.
Ramadhan bukan tujuan akhir, tetapi proses pembentukan karakter takwa. Orang yang berhasil dari madrasah Ramadhan adalah mereka yang mampu menjaga nilai-nilai Ramadhan seperti kejujuran, kesabaran, ibadah, dan kepedulian sosial dalam kehidupan setelah Ramadhan.

06 Maret 2026

Takjilan Hari ke-17

Setengah perjalanan ibadah puasa Ramadhan sudah dilalui, tepatnya hari ke-17, Jumat 6 Maret 2026. Jamaah masjid Al-Istiqomah Ngentak juga masih antusias menambah ilmu, dengan cara menghadiri kultum menjelang berbuka setiap pukul 17.30 WIB. Sebagai pemateri kesempatan hari itu adalah Bpk. Rudi Santosa.

Foto: Heru Sudjanto

Pak Rudi membahas beberapa amalan yang sering dilakukan setelah shalat dan bagaimana hukumnya menurut dalil. Pertama, mengenai mengangkat tangan untuk berdoa setelah shalat sunnah, tidak ada larangan untuk melakukannya. Namun, yang lebih utama adalah tidak menjadikannya kebiasaan setiap selesai shalat, karena tidak terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah selalu melakukannya. 

Selanjutnya, dibahas tentang hadist yang menyebutkan shalat sebagai bentuk merendahkan diri sambil mengangkat tangan dan memohon kepada Allah. Hadis tersebut dijelaskan sebagai hadis yang lemah (dhaif) menurut para ulama. 

Kultum juga menyinggung beberapa kebiasaan setelah shalat, seperti mengusap kening atau debu setelah sujud, yang tidak memiliki dalil kuat yang melarang secara tegas. Kemudian, mengenai berjabat tangan setelah shalat, pada dasarnya berjabat tangan disyariatkan ketika kaum muslimin saling bertemu. Para sahabat Nabi Muhammad SAW juga melakukan hal tersebut ketika mereka berjumpa. Bahkan terdapat hadis yang menjelaskan bahwa dua orang muslim yang berjabat tangan ketika bertemu akan diampuni dosa-dosanya sebelum mereka berpisah. 

Kesimpulan: Beberapa amalan setelah shalat boleh dilakukan selama tidak diyakini sebagai kewajiban atau tidak dijadikan kebiasaan yang dianggap bagian dari ibadah yang dicontohkan secara tetap oleh Rasulullah

05 Maret 2026

Takjilan Hari ke-16

Menjadi rutinitas setiap menjelang berbuka puasa di masjid Al-Istiqomah selalu diadakan kultum. Seperti  hari itu, Kamis 5 Maret 2026 pukul 17.30 WIB yang bertepatan dengan puasa hari ke-16. Terjadwal pemateri sore itu adalah Bpk. Muhammad Sigit Nurcahyo. 

Foto: Heru Sudjanto

Dalam uraiannya, Bpk. Sigit menyampaikan berbagai keutamaan membaca dan mempelajari Al-Qur'an yakni:

  1. Syafaat di Hari Kiamat: Orang-orang saleh dan penghafal Al-Qur'an akan diberikan izin oleh Allah untuk memberikan pertolongan (syafaat) kepada teman-teman akrabnya di akhirat kelak.
  2. Ketenangan Hati dan Rahmat: Membaca Al-Qur'an, baik secara individu maupun bersama-sama (tadarus) di masjid, akan mendatangkan ketenangan jiwa, rahmat Allah, perlindungan malaikat, dan keridaan dari Allah SWT.
  3. Mengangkat Derajat: Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang senantiasa membaca, menghafal, dan berpegang teguh pada Al-Qur'an, baik di dunia maupun di akhirat.
  4. Menyinari Hati dan Wajah: Al-Qur'an dipercaya dapat memberikan "cahaya" bagi hati dan wajah bagi mereka yang mengamalkannya.
  5. Manusia Terbaik: Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang mau mempelajari Al-Qur'an dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain.
Di penghujung acara, kultum diakhiri dengan doa berbuka puasa bersama dalam suasana yang akrab.