Putaran ke-34 pengajian Sabilul Huda kembali digelar. Kali ini dilaksanakan pada hari Ahad 14 Juni 2026 pukul 19.45 WIB. Sebagai shohibul bait adalah Bpk. Sugiyono di Ngentak.
Menjadi rutinitas, kegiatan diawali dengan dzikir pinuwunan yang dipimpin oleh Bpk. Ponimin selaku imamudin kampung Ngentak dan Dolikan. Jamaah yang hadir mengikuti bacaan dengan khusyuk. Usai pembacaan kalimat thoyibah dzikir dan tahlil, acara istirahat guna menikmati hidangan teh dan snack.
Usai jeda istirahat, dilanjutkan acara inti berupa pengajian yang disampaikan Bpk. Muhammad Thoyib dari Sawahan selaku guru ngaji malam itu.
![]() |
| Foto: Heru Sudjanto |
Dalam penjelasannya, pak Thoyib menyampaikan materi : Filosofi Shalat, Penyakit Jiwa dan Keutamaan Muharram.
1. Pendahuluan dan Konteks Kegiatan
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Semesta Alam, yang senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah, serta nikmat sehat kepada kita semua sehingga jemaah dapat berkumpul dalam majelis yang penuh berkah ini. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, hingga pengikutnya yang setia menanti syafaat beliau di hari akhir. Kegiatan pengajian ini diselenggarakan dengan niat tulus untuk Thalabul Ilmi (menuntut ilmu) sekaligus mempererat tali silaturahmi. Pertemuan ini menjadi wadah penting bagi jemaah untuk merefleksikan diri, memperdalam pemahaman agama, dan mencari petunjuk jalan keselamatan demi kebahagiaan lahir dan batin di dunia maupun akhirat.
2. Keutamaan Menuntut Ilmu dan Kedahsyatan Sujud
Menuntut ilmu secara konvensional atau "ngaji" memiliki kedudukan yang jauh lebih mulia dibandingkan sekadar mencari informasi secara instan melalui media digital. Dalam sumber dijelaskan bahwa proses belajar yang sabar dan tekun—seperti belajar Al-Qur'an dari tingkat dasar hingga khatam yang membutuhkan waktu kurang lebih 10 tahun—adalah bentuk nyata dari al jihadi fi sabilillah (jihad di jalan Allah). Keberkahan ilmu diperoleh melalui proses panjang dan bimbingan guru, bukan sekadar melalui durasi singkat di YouTube atau Google.
Dalam ibadah salat, posisi Sujud merupakan momentum paling istimewa karena pada saat itulah seorang hamba berada pada posisi paling dekat dengan Penciptanya. Komunikasi paling intim antara makhluk dan Khalik terjadi dalam penghambaan total saat bersujud. Untuk mencapai kesempurnaan sujud, fikih menetapkan tujuh anggota tubuh yang wajib menempel pada tempat sujud:
- Kening atau dalam istilah lokal disebut batuk.
- Dua telapak tangan atau epek-epek.
- Dua lutut atau dengkul.
- Dua ujung kaki.
Mengenai hukum salat bagi orang yang sedang sakit, ditekankan bahwa kesempurnaan sujud harus tetap diupayakan selama fisik memungkinkan. Sumber merujuk pada teladan Mbah Kiai Nawawi Abdul Aziz, yang meskipun dalam kondisi sakit parah, tetap berikhtiar untuk sujud secara sempurna. Dalam fikih, jika seseorang tidak mampu sujud secara mandiri, ia dianjurkan melakukannya dengan usaha keras (bi habwin atau merangkak/berupaya fisik) atau dengan bantuan pihak lain (muinin), seperti menggunakan bantuan tali atau penyangga. Hal ini menunjukkan bahwa sujud bukan sekadar gerakan fisik, melainkan esensi dari pengakuan atas kerendahan diri manusia di hadapan Allah.
3. Filosofi Salat: Makna Akronim S-L-T (Shod, Lam, Ta)
Kata "Shalat" yang tersusun dari huruf hijaiyah mengandung filosofi mendalam mengenai karakter yang seharusnya terbentuk pada diri seorang muslim:
- S (Shod - Shidiq): Salat mendidik pribadi untuk senantiasa memiliki sifat Shidiq atau benar dalam ucapan. Seorang yang mendirikan salat dengan benar tidak akan berbohong dan selalu memegang teguh kejujuran.
- L (Lam - Layyinul Qolb): Salat berfungsi untuk melembutkan hati (Layyinul Qolb). Kelembutan ini harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam hubungan domestik seperti antara suami dan istri yang harus saling bersikap halus dan tidak kasar.
- T (Ta - Tarquul Maasi): Puncak dari ibadah salat adalah Tarquul Maasi, yakni kemampuan dan kemauan kuat untuk meninggalkan segala bentuk kemaksiatan. Salat yang mabrur adalah salat yang mampu mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar.
4. Tiga Penyakit Utama Jiwa Manusia
Merujuk pada kitab Irsyadul ‘Ibad karya Syekh Zainuddin Al-Malaibari, terdapat tiga penyakit jiwa yang sangat berbahaya bagi keselamatan manusia jika tidak segera diobati dengan iman:
- Mengandalkan Akal Tanpa Iman: Kesombongan intelektual di mana seseorang hanya mengandalkan logika dan akalnya sendiri tanpa sandaran keimanan kepada Allah. Hal ini merupakan pintu utama menuju kesesatan.
- Kesombongan karena Harta (Bondo): Merasa berkuasa dan semena-mena karena memiliki kekayaan materi. Manusia sering lupa bahwa harta hanyalah titipan yang bisa diambil kembali oleh Allah kapan saja melalui berbagai jalan.
- Merasa Paling Mulia (Ujub): Penyakit hati yang merasa diri lebih tinggi derajatnya dibandingkan makhluk lain. Padahal, kemuliaan sejati (Al-Izzah) hanya milik Allah, dan manusia yang paling mulia di sisi-Nya hanyalah mereka yang paling bertakwa.
5. Sejarah dan Amalan Bulan Muharram (Sura)
Pergantian tahun Hijriah menuju bulan Muharram atau bulan Sura adalah momentum yang penuh dengan sejarah kemenangan dan rahmat Allah.
- Puasa Asyura: Dilakukan pada tanggal 10 Muharram. Keutamaannya sangat besar, yakni dapat menjadi penghapus dosa-dosa setahun yang telah berlalu.
- Sejarah Kenabian: Tanggal 10 Muharram merupakan hari bersejarah bagi para nabi, di antaranya kemenangan Nabi Musa AS atas kejaran Firaun serta hari mendaratnya kapal Nabi Nuh AS dengan selamat setelah terjangan banjir bandang.
- Tradisi Bubur Sura: Secara filosofis, tradisi ini merujuk pada peristiwa setelah mendaratnya kapal Nabi Nuh AS. Beliau memerintahkan pengikutnya untuk mengumpulkan sisa-sisa bahan makanan yang ada—seperti beras, gandum, kacang-kacangan, dan kurma—untuk dimasak bersama. Praktik ini melambangkan rasa syukur yang mendalam atas keselamatan dan kebersamaan.
- 12 Amalan Muharram: Terdapat 12 amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan, di antaranya:
- Melaksanakan salat (diutamakan salat tasbih) dan berpuasa.
- Menyantuni anak yatim dan bersedekah.
- Mempererat silaturahmi dan mengunjungi ulama.
- Membersihkan diri dengan mandi dan memakai celak.
- Membaca surat Al-Ikhlas sebanyak seribu kali.
- Melakukan mayorake, yaitu memberikan nafkah lebih atau menyajikan hidangan istimewa bagi keluarga sebagai bentuk perluasan rezeki dan rasa syukur.
6. Penutup dan Harapan
Sebagai penutup majelis, marilah kita jadikan momentum tahun baru Hijriah ini sebagai titik balik untuk meningkatkan kualitas ibadah kita, terutama dalam memperbaiki kesempurnaan salat. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah-Nya agar kita dijauhkan dari maksiat dan didekatkan pada ketaatan. Doa tulus kita panjatkan agar keluarga kita diberkahi, serta anak-cucu kita tumbuh menjadi generasi yang saleh dan salehah yang kelak menjadi pembuka pintu surga bagi orang tuanya. Akhirul kalam, mari kita perbanyak istighfar memohon ampunan kepada Allah SWT atas segala kekhilafan dan dosa yang telah lalu. Astagfirullah rabbal baraya, astagfirullah minal khathaya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar