![]() |
| Foto : Heru Sudjanto |
Dalam uraiannya, Bpk. Sudiro menyampaikan tema Hidup Sederhana dan Pandai Bersyukur: Belajar dari Rasulullah dan Para Sahabat. Jamaah diajak merenungkan makna kesederhanaan, rasa syukur, dan hakikat kemuliaan dalam Islam. Melalui kisah Rasulullah dan para sahabat, kita diingatkan bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada banyaknya harta, tetapi pada ketakwaan dan amal saleh.
Hidup Seperti Musafir
Para sahabat Nabi hidup dengan prinsip sederhana, seperti seorang musafir yang hanya membawa bekal secukupnya. Dikisahkan sebagian sahabat hanya memiliki harta belasan hingga puluhan dirham. Namun, keimanan mereka sangat kokoh. Mereka tidak menumpuk harta dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Prinsipnya jelas: secukupnya untuk kebutuhan, selebihnya untuk kebaikan.
Sering kali kita merasa kurang karena terlalu sering melihat kepada orang yang lebih berada. Padahal, jika kita melihat ke bawah, begitu banyak saudara kita yang hidup dalam keterbatasan. Bandingkan kehidupan kita hari ini dengan kehidupan Rasulullah. Kita memiliki rumah, kendaraan, makanan yang cukup, bahkan lebih. Namun, mengapa hati masih terasa kurang? Kultum ini juga mengajak kita memperbaiki sudut pandang: melihat nikmat sebagai karunia, bukan sebagai kekurangan.
Ilmu Tidak Akan Berkurang
Dalam salah satu kisah, Salman memberi perumpamaan tentang air sungai. Ketika air diambil, sungai tidak berkurang. Begitu pula ilmu—semakin dibagikan, justru semakin bertambah. Pesannya jelas: kejarlah ilmu dan amalkan. Ilmu yang bermanfaat adalah investasi akhirat yang tidak akan habis.
Kemuliaan Bukan Karena Materi
Banyak tokoh besar dalam sejarah yang hidup sederhana, bahkan dalam kekurangan. Namun nama mereka harum sepanjang masa. Ini menjadi pelajaran penting: kemuliaan dan kehormatan tidak ditentukan oleh tumpukan harta, tetapi oleh nilai, perjuangan, dan kontribusi kepada sesama.
Kesederhanaan Keluarga Rasulullah
Dalam hadis riwayat Ahmad dan Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah dan keluarganya pernah melewati hari-hari tanpa makanan. Bahkan selama setahun, makanan pokok mereka hanyalah gandum. Namun, kekurangan tersebut tidak sedikit pun mengurangi kemuliaan beliau di sisi Allah SWT. Jika manusia paling mulia saja hidup sederhana, lalu untuk apa kita berlomba-lomba dalam kemewahan?
Refleksi untuk Kita Semua, kultum ini diakhiri dengan ajakan untuk:
- Hidup lebih sederhana
- Tidak berlebihan dalam mengejar materi
- Memperbanyak syukur
- Meneladani kehidupan Rasulullah
- Menyadari bahwa setiap nikmat akan dimintai pertanggungjawaban
Semoga kita menjadi hamba yang tidak hanya kaya secara materi, tetapi juga kaya hati, iman, dan amal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar