Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, jemaah pengajian Sabilul Huda menggelar acara pengajian rutin sekaligus tradisi "Ruwahan" pada hari Ahad (malam Senin) 8 Februari 2026 pukul 20.15 WIB. Acara yang berlangsung di kediaman Bapak Rajiono dan Ibu Yuli, di kampung Dolikan Bantul ini menjadi momen silaturahmi sekaligus doa bersama bagi para leluhur yang telah tiada. Tradisi Ruwahan sendiri dimaknai sebagai upaya "ngeluru arwah" atau mengingat serta mendoakan sanak saudara yang telah meninggal dunia sebagai bentuk bakti keluarga yang masih hidup.
Kegiatan diawali dengan pembacaan dzikir, tahlil, dan kalimat thoyibah yang dipimpin oleh Bpk. Ponimin selaku imamudin. Seusainya, acara rehat mengguna menikmati opor ayam, snack dan minuman yang disajikan tuan rumah. Setelah acara istirahat dianggap cukup, acara dilanjutkan pengajian yang disampaikan oleh Bpk. K.H. Abdul Mustoni.
![]() |
| Foto : Heru Sudjanto |
Dalam tausiyahnya, K.H. Abdul Mustoni menekankan pentingnya perhatian dari keluarga yang masih hidup terhadap mereka yang sudah berada di alam barzah. Beliau menyebutkan setidaknya ada tiga hal utama yang sangat dibutuhkan oleh orang yang sudah meninggal dunia:
- Doa: Karena orang yang sudah meninggal tidak lagi bisa beramal, maka mereka sangat mengharapkan kiriman doa dari keluarga.
- Sedekah : Pahala sedekah yang diniatkan untuk orang tua atau keluarga yang telah tiada sangat membantu mereka di alam kubur.
- Kerukunan Keluarga: Orang tua di alam kubur akan merasa tenang jika melihat anak-cucu yang ditinggalkan hidup rukun dan saling menjaga silaturahmi.
Menariknya, dalam pengajian tersebut, K.H. Abdul Mustoni juga membedah filosofi tembang Jawa terkenal, Sluku-Sluku Bathok. Beliau menjelaskan bahwa tembang tersebut mengandung pesan mendalam tentang kehidupan dan kematian.
Kata Sluku-sluku dimaknai sebagai ajakan untuk beristirahat atau selonjor, sementara Bathok mengacu pada kepala atau pikiran. Pesannya adalah agar manusia senantiasa mengistirahatkan pikiran dari urusan duniawi untuk fokus berzikir dan mengingat Allah. Adapun lirik Si Romo menyang Solo dimaknai sebagai perintah untuk bersuci siram dan menjalankan shalat.
Sebelum diakhiri, pihak pengurus pengajian berharap, melalui kegiatan ini, jemaah semakin siap secara spiritual dalam menghadapi bulan puasa. Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah antarjemaah. Panitia juga mengimbau jemaah untuk tetap konsisten dalam menjalankan ibadah dan zikir, termasuk mengamalkan kalimat Hasbunallah wanikmal wakil sebagai pegangan dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar