Pengajian Sabilul Huda merupakan kegiatan keagamaan rutin yang diselenggarakan oleh warga Ngentak RT 04, Dagen, Pendowoharjo, Sewon, Bantul. Mengusung arti "Jalan Petunjuk", pengajian ini menjadi pilar utama dalam membina kerohanian warga secara bergiliran dari rumah ke rumah (shohibul bait).
![]() |
| Foto: Heru Sudjanto |
Selain menjadi sarana memperdalam ilmu agama (tholabul 'ilmi), Pengajian Sabilul Huda berfungsi sebagai ruang silaturahmi antarwarga untuk memupuk rasa kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial di lingkungan kampung. Kegiatannya berlangsung khidmat dengan diisi pembacaan doa, kajian keagamaan, serta musyawarah warga dalam suasana yang penuh kehangatan.
Edisi keempat kali ini, pengajian dilaksanakan pada hari Ahad 23 Agustus 2026 pukul 19.45 WIB. Sebagai shohibul bait adalah Bpk. Jaswandi, meskipun tempat pelaksanaan di serambi masjid Al-Istiqomah. Seperti biasa, acara pengajian diawali dengan doa bersama, zikir, tahlil, serta selawat untuk mendoakan para pendiri pengajian. Dalam kesempatan tersebut, disampaikan juga pengumuman dari Kiai Muhammad Thoha mengenai undangan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang akan diselenggarakan hari Rabu, 26 Agustus 2026 di Santan, Pajangan, Bantul. Jamaah diajak untuk terus memupuk rasa cinta (mahabah) kepada Rasulullah SAW, khususnya dengan memperbanyak selawat di bulan Rabiul Awal ini.
Sebagai guru ngaji malam itu adalah Bpk. Muhammd Thoyib dari Sawahan. Dalam penjelasannya, beliau menyampaikan hal-hal berikut :
Meneladani Religiusitas Pejuang Kemerdekaan
Peringatan kemerdekaan agar tidak sekadar diisi dengan perlombaan fisik yang membuat orang melupakan esensi perjuangan para pahlawan. Generasi masa kini perlu meneladani aspek spiritual para tokoh pejuang terdahulu. Sebagai contoh, Raden Ajeng Kartini semasa hidupnya tekun mengaji kepada Mbah Sholeh Darat di Semarang, yang kemudian mendorong lahirnya kitab terjemahan Al-Qur'an pertama. Begitu pula dengan Jenderal Sudirman yang dikenal sangat menjaga religiusitasnya dan selalu menyediakan padasan (tempat wudhu) di setiap tempat persinggahannya selama memimpin perang gerilya dalam kondisi sakit.
Kepemimpinan Berlandaskan Ibadah
Merujuk pada tafsir Surah Quraisy, Pak Thoyib menekankan pentingnya mendahulukan ibadah kepada Allah di atas kepentingan duniawi, dengan menjadikan masjid sebagai pusat pengabdian. Jika suatu bangsa atau pemimpin mengedepankan nilai spiritual ini, Allah menjamin keselamatan mereka dari kelaparan (sandang pangan) serta membebaskan mereka dari rasa takut atau khawatir dalam kehidupan.
Kewajiban Shalat Berjamaah di Masjid
Pentingnya shalat berjamaah ditegaskan melalui kisah sahabat Nabi yang mengalami kebutaan. Ketika sahabat tersebut bertanya apakah ia mendapat keringanan (rukhsah) untuk tidak berjamaah di masjid karena kondisinya, Rasulullah SAW bertanya apakah telinganya masih mendengar adzan. Begitu sahabat tersebut menjawab mendengar, Rasulullah menegaskan tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan shalat berjamaah di masjid.
Pengurusan Jenazah dan Keikhlasan Hati
Bpk. Thoyib juga membahas hukum pengurusan jenazah bagi umat Islam (fardu kifayah), seperti memandikan, mengkafani, menyalati, hingga menguburkan. Kewajiban ini tetap harus dilaksanakan oleh orang yang hidup, bahkan bagi mereka yang meninggal dalam kondisi tidak wajar sekalipun. Sebagai penutup, jamaah diimbau untuk terus istikamah menghadiri majelis ilmu dan memperbanyak selawat guna menjaga ketenteraman jiwa. Penceramah mengingatkan bahwa kehadiran di majelis pengajian jauh lebih utama daripada sekadar langsung memahami seluruh materi kajian, karena yang terpenting adalah semangat untuk hadir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar