16 Februari 2026

Pertemuan Warga #3 @Bpk. Mustijo

Secara kebetulan, Bpk. Mustijo yang baru saja mempunyai hajatan, menjadi tuan rumah pertemuan rutin warga malam Selasa Kliwon. Tepatnya dilaksanakan hari Senin, 16 Februari 2026 pukul 20.15 WIB. 

Hasil pertemuan :

1. Pembukaan oleh Bpk. Heru Sudjanto
2. Dzikir Pinuwunan oleh Bpk. Rudi Santosa
3. Laporan Keuangan

  • Kas RT 04
  • Jimpitan oleh Bpk. Marwanto
  • Dana Sosial oleh Bpk. Abdul Rokhimin

4. Sambutan Ketua RT 04

  • Ucapan terimakasih atas kehadiran warga
  • Selama bulan Ramadhan, mohon partisipasi aktif kegiatan di masjid Al-Istiqomah
  • Kewaspadaan karena beberapa kasus pencurian di sekitar kampung Ngentak
  • Tiang lampu yang miring di dekat sungai sudah dilaporkan ke Dinas Perhubungan, namun belum ada tindak lanjut

5. Lain-lain

  • Bpk. Mustijo : Ucapan terimakasih kepada seluruh warga Ngentak yang sudah membantu kelancaran pelaksanaan hajatan pernikahan puterinya
  • Bpk. Parno : 1) Usul tiang lampu yang miring diperbaiki secara mandiri, dan digeser posisinya 2) Pengadaan lampu penerangan di jalan kampung rumah Bpk. Purwoko ke selatan

6. Arisan, yang mendapatkan Bpk. Suratiman
7. Penutup

15 Februari 2026

Sabilul Huda #24 @Bpk. Imam

Pengajian rutin pekanan Sabilul Huda kembali hadir menyapa jamaah kampung Ngentak dan Dolikan. Dilaksanakan pada hari Ahad 15 Februari 2026 di rumah Bpk. Imam di Dolikan mulai pukul 20.15 WIB.

Acara dibuka oleh Bpk. Rudi Santosa yang menyampaikan informasi bahwa pengajian kali ini merupakan edisi terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan 1447 H. Selanjutnya pembacaan dzikir tahlil kalimat thoyibah yang dipimpin Bpk. Ponimin selaku imamudin. Setelahnya adalah istirahat sejenak guna menikmati hidangan yang sudah tersaji, yakni nasi gule dan segelas teh panas.

Sebagai guru ngaji malam itu adalah Bpk. Drs. H. Syahroini Djamil. Dalam paparannya, beliau menyampaikan materi berikut :

1. Kekayaan Allah yang Tak Terbatas

Pembicara menekankan bahwa Allah SWT adalah Dzat yang Maha Kaya (Ya Ghoniyu) dan Maha Pemberi Kekayaan (Ya Mughni). Seluruh kekayaan manusia di dunia ini jika dibandingkan dengan kekayaan Allah hanyalah ibarat setetes air pada ujung jarum yang dicelupkan ke dalam samudra luas.

Ditegaskan bahwa jika seluruh manusia dan jin dari awal hingga akhir zaman meminta segala sesuatu kepada Allah dan semuanya dikabulkan, hal tersebut tidak akan mengurangi kekayaan Allah sedikit pun.

2. Mengapa Rezeki Terasa Seret?

Meskipun seseorang sudah rajin salat dan mengaji, terkadang rezeki masih terasa sulit. Pembicara mengingatkan agar kita tidak menyalahkan Allah. Introspeksi Diri: Kita harus mencari kesalahan pada diri sendiri, apakah masih ada maksiat yang dilakukan atau ada keraguan terhadap kekuasaan Allah.

Hambatan Hutang: Hutang yang belum terlunasi atau belum diikhlaskan oleh pemberi hutang dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk mendapatkan kenikmatan, baik di dunia maupun di alam kubur.

3. Pentingnya Niat Ibadah dalam Segala Aktivitas

Waktu yang kita gunakan untuk ibadah murni (seperti salat lima waktu) sebenarnya sangat sedikit jika dihitung secara matematis. Agar seluruh hidup bernilai pahala, umat Islam diajak untuk meniatkan setiap aktivitas sebagai ibadah, mulai dari bekerja, berdagang, hingga tidur, dengan mengawalinya menggunakan doa atau Bismillah.

4. Keyakinan pada Hari Kebangkitan

Mengambil kisah Nabi Ibrahim AS yang meminta petunjuk bagaimana Allah menghidupkan orang mati agar hatinya menjadi tenang (tumakninah). Pembicara menjelaskan bahwa menghidupkan kembali manusia pada hari kebangkitan adalah hal yang sangat mudah bagi Allah, karena Allah mampu menciptakan manusia dari awal yang tidak ada menjadi ada.

5. Pesan Penutup

Menjelang bulan Ramadan, jemaah diajak untuk saling mengasihi sesama makhluk di bumi agar dikasihi oleh penduduk langit. Pengajian ditutup dengan doa agar jemaah diberikan kesehatan untuk menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan maksimal dan penuh keberkahan.

Di penghujung acara, pembacara acara menginformasikan peroleh infak malam itu. Sedangkan yang mendapatkan undian arisan adalah Ibu Sarinem di Dolikan.

Foto : Heru Sudjanto

Boyong Manten Mbak Novi

Foto : Heru Sudjanto
Minggu Pon, 15 Februari 2026, dilaksanakan prosesi adat Jawa "Boyong Manten" sebagai rangkaian pernikahan dari ananda Mbak Novi (putri dari Bapak Mustijo & Ibu Sri Astuti) dan Mas Taufiq (putra dari Bapak Sudarmadi & Ibu Surati). Acara yang berlangsung di Sakatembi Resto, Tembi, Jln. Parangtritis ini berjalan dengan khidmat dan penuh rasa kekeluargaan.

Acara diawali dengan pembukaan secara islami melalui pembacaan basmalah dan doa bersama oleh pranata adicara. Pihak keluarga pria, yang diwakili Bpk. Parno selaku juru bicara keluarga Bapak Mustijo dan Ibu Sri Astuti, menyampaikan maksud kedatangan mereka untuk menyerahkan putra-putri mempelai kepada keluarga besar di Miri. Dalam sambutannya, disampaikan pula rasa syukur atas kelancaran akad nikah yang telah dilaksanakan sebelumnya serta pemberian "oleh-oleh" sebagai simbol pengikat tali silaturahmi antar kedua keluarga besar.

Pihak keluarga wanita, diwakili oleh Bapak Sudarmadi dan Ibu Surati, menyambut kedatangan rombongan dengan tangan terbuka dan penuh rasa bahagia. Dalam penerimaannya, pihak keluarga menyatakan kesiapan untuk membimbing kedua mempelai dalam menjalani kehidupan rumah tangga yang baru. Harapan doa dipanjatkan agar pasangan ini menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah, serta hanya maut yang dapat memisahkan.

Setelah prosesi tutur kata serah terima selesai, acara dilanjutkan dengan sesi pemberian ucapan selamat dan doa restu dari para tamu undangan dan kerabat dekat. Saudara kandung mempelai, Bapak Erfan Darianto, turut memberikan ucapan selamat yang hangat bagi kedua mempelai.

Sebagai penutup, para tamu undangan dipersilakan untuk menikmati hidangan santap siang bersama yang telah disediakan oleh pihak keluarga sebagai bentuk rasa syukur atas bersatunya dua keluarga besar tersebut. Acara diakhiri dengan sesi dokumentasi foto bersama untuk mengabadikan momen bersejarah ini.

14 Februari 2026

Ruwahan #3 di Bpk. Robet

Kegiatan kenduren ruwahan ketiga kali ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 Februari 2026 bertempat di rumah Bpk. Robet. Dimulai pukul 20.15 WIB, acara ini bertujuan mengirim doa kepada leluhur, antara lain almarhum Bpk. Medi Utomo dan lainnya. Meski hujan turun deras sejak Isya, namun bapak-bapak takmir tetap bersemangat hadir beserta ibu-ibu jamaah tartilan. 

Seperti biasa, acara langsung dibuka dan dipimpin oleh Bpk. Rudi Santosa dengan membacakan kalimat thoyibah dzikir dan tahlil. Jamaah yang hadirpun mengikuti dengan khusyu' dan khidmat. Setelahnya, tuan rumah mempersilakan menikmat hidangan berupa teh panas, snack dan semangkok soto. Nampak hadir bapak-bapak pada acara tersebut antara lain Bpk. Purwo, Bpk. Agus Karyanto, Bpk. Nahrowi, Bpk. Sugiyono, Bpk. Abdul Rokhimin, Bpk. Supihartono, Bpk. Mustijo, Bpk. Jaswandi, Bpk. Supriyadi, Bpk. Rudi Santosa, Bpk. Heru Sudjanto, Bpk. Mardiyanto dan yang lainnya.
Foto : Heru Sudjanto

09 Februari 2026

Ruwahan #2 Bpk. Mardiyanto

Senin 9 Februari 2026 menjelang adzan Isya berkumandang, hujan turun begitu derasnya di kampung Ngentak RT 04. Saking derasnya, jalan menuju masjid Al-Istiqomah terendam air. Terlihat warga yang akan berjamaah di masjid menggunakan payung untuk melindungi badan dari curahan air hujan. Kondisi ini berlangsung hingga lepas Isya. 

Di saat yang sama, bada Isya diadakan acara dzikir ruwahan kirim doa bertempat di rumah Bpk. Mardiyanto bagi takmir masjid Al-Istiqomah dan ibu-ibu peserta tartilan. Namun meski harus melewati jalan licin dan becek, mereka tetap bersemangat hadir di rumah Bpk. Mardiyanto.

Pukul 20.15 WIB Bpk. Rudi Santosa memulai acara pembacaan dzikir kalimah thoyibah. Bapak ibu yang hadir mengikuti dengan khidmat hingga usai. Setelahnya, hadirin dipersilakan menikmati sate lontong, snack dan segelas teh panas yang sudah disajikan oleh tuan rumah. Sekitar pukul 20.40 WIB, acara selesai.

Foto : Heru Sudjanto

08 Februari 2026

Sabilul Huda #23 @Ibu Yuli

Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, jemaah pengajian Sabilul Huda menggelar acara pengajian rutin sekaligus tradisi "Ruwahan" pada hari Ahad (malam Senin) 8 Februari 2026 pukul 20.15 WIB. Acara yang berlangsung di kediaman Bapak Rajiono dan Ibu Yuli, di kampung Dolikan Bantul ini menjadi momen silaturahmi sekaligus doa bersama bagi para leluhur yang telah tiada. Tradisi Ruwahan sendiri dimaknai sebagai upaya "ngeluru arwah" atau mengingat serta mendoakan sanak saudara yang telah meninggal dunia sebagai bentuk bakti keluarga yang masih hidup.

Kegiatan diawali dengan pembacaan dzikir, tahlil, dan kalimat thoyibah yang dipimpin oleh Bpk. Ponimin selaku imamudin. Seusainya, acara rehat mengguna menikmati opor ayam, snack dan minuman yang disajikan tuan rumah. Setelah acara istirahat dianggap cukup, acara dilanjutkan pengajian yang disampaikan oleh Bpk. K.H. Abdul Mustoni. 

Foto : Heru Sudjanto

Dalam tausiyahnya, K.H. Abdul Mustoni menekankan pentingnya perhatian dari keluarga yang masih hidup terhadap mereka yang sudah berada di alam barzah. Beliau menyebutkan setidaknya ada tiga hal utama yang sangat dibutuhkan oleh orang yang sudah meninggal dunia:

  1. Doa: Karena orang yang sudah meninggal tidak lagi bisa beramal, maka mereka sangat mengharapkan kiriman doa dari keluarga.
  2. Sedekah : Pahala sedekah yang diniatkan untuk orang tua atau keluarga yang telah tiada sangat membantu mereka di alam kubur.
  3. Kerukunan Keluarga: Orang tua di alam kubur akan merasa tenang jika melihat anak-cucu yang ditinggalkan hidup rukun dan saling menjaga silaturahmi.

Menariknya, dalam pengajian tersebut, K.H. Abdul Mustoni juga membedah filosofi tembang Jawa terkenal, Sluku-Sluku Bathok. Beliau menjelaskan bahwa tembang tersebut mengandung pesan mendalam tentang kehidupan dan kematian.

Kata Sluku-sluku dimaknai sebagai ajakan untuk beristirahat atau selonjor, sementara Bathok mengacu pada kepala atau pikiran. Pesannya adalah agar manusia senantiasa mengistirahatkan pikiran dari urusan duniawi untuk fokus berzikir dan mengingat Allah. Adapun lirik Si Romo menyang Solo dimaknai sebagai perintah untuk bersuci siram dan menjalankan shalat.

Sebelum diakhiri, pihak pengurus pengajian berharap, melalui kegiatan ini, jemaah semakin siap secara spiritual dalam menghadapi bulan puasa. Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah antarjemaah. Panitia juga mengimbau jemaah untuk tetap konsisten dalam menjalankan ibadah dan zikir, termasuk mengamalkan kalimat Hasbunallah wanikmal wakil sebagai pegangan dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup.

Kenduri Sedekah Ruwahan 2026

Foto : Tito Perwito
Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 H, warga RT 04 Ngentak menjadwalkan agenda tradisi tahunan berupa Kenduri Sedekah Ruwahan. Kegiatan religi dan budaya ini dipusatkan di Serambi Masjid Al-Istiqomah pada hari Sabtu (malam Minggu), 8 Februari 2026 pukul 18.15 WIB (bada Sholat Maghrib). Pemilihan waktu ini dimaksudkan agar seluruh warga dapat berkumpul dengan tenang untuk mengikuti doa bersama.

Ketua RT 04 Ngentak, Eko Sudaryanto, telah melayangkan undangan resmi kepada seluruh bapak-bapak warga di wilayah tersebut untuk hadir secara langsung dalam acara yang sarat akan makna kebersamaan ini.

"Kami sangat mengharapkan kehadiran bapak-bapak sekalian dalam acara ini. Besar harapan kami agar warga bisa hadir secara lengkap," tulis Eko Sudaryanto dalam pengantarnya.

Tradisi Ruwahan atau Sedekah Ruwahan merupakan momen penting bagi masyarakat Jawa untuk memanjatkan doa bagi para leluhur sekaligus sebagai bentuk syukur sebelum memasuki masa puasa. Selain aspek spiritual, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga di lingkungan RT 04 Ngentak.

Lebih lanjut, Ketua RT 04 berharap kegiatan yang berlangsung di Masjid Al Istiqomah tersebut dapat berjalan dengan khidmat dan membawa keberkahan bagi seluruh lingkungan warga.