19 Juli 2026

Lebih dari Sekadar Bersih-Bersih Masjid

Foto: Heru Sudjanto
Suasana Ahad pagi biasanya adalah potret ketenangan. Namun kali ini tidak. Tanggal 19 Juli 2026 sejak matahari baru saja mengintip, keriuhan sudah pecah di masjid Al-Istiqomah Ngentak RT 04 Dagen Pendowoharjo Sewon Bantul. Bukan keriuhan karena perdebatan, melainkan suara langkah kaki, gesekan sapu, dan tawa yang menyelinap di antara debu-debu yang beterbangan. Ada pemandangan yang tak biasa: kabel-kabel yang semrawut ditarik, kipas angin diturunkan dengan hati-hati, dan para "tukang listrik" dadakan yang bekerja dengan sangat jos. Ya, para takmir sedang bahu-membahu membersihkan lingkungan masjid.

Kegiatan kerja bakti ini adalah sebuah panggung di mana sejarah lama dan candaan segar bertemu di bawah atap yang sama. Masjid, dalam momen seperti ini, berubah menjadi lebih dari sekadar tempat sujud; ia menjadi museum hidup yang menyimpan memori kolektif takmir. Di balik tumpukan barang usang dan debu yang "kebur," tersimpan berbagai kejutan yang membuat kerja keras fisik ini terasa seperti sebuah perayaan komunitas yang hangat.

Di salah satu sudut yang jarang tersentuh, takmir menemukan deretan piala yang tertutup debu tebal. Setelah dibersihkan dengan kain lap, piala-piala itu mulai menampakkan identitasnya. Mereka adalah saksi bisu dari prestasi jamaah di masa lampau, bukti bahwa semangat berkompetisi dan berorganisasi di lingkungan ini telah mendarah daging sejak lama."Ternyata yo jual tahun piro tapi tahunan 80." Kalimat yang terlontar dari salah satu takmir tersebut merangkum segalanya. Penemuan piala dari era 1980-an ini memberikan perspektif baru bagi generasi sekarang: bahwa masjid ini telah menjadi pusat kehidupan sosial selama berpuluh-puluh tahun. Benda-benda lama ini bukan sekadar rongsokan, melainkan benang merah yang menghubungkan masa lalu yang gemilang dengan pengabdian yang kita lakukan hari ini.

Membersihkan kabel yang penuh daki dan kipas angin yang macet tentu melelahkan, namun humor selalu menjadi pelumas yang ampuh. Gelak tawa pecah saat sebuah guci tua ditemukan; dengan wajah serius yang dibuat-buat, salah satu takmir berseloroh bahwa itu adalah "guci zaman Dinasti Ming." Tentu saja itu hanya gurauan, tapi cukup untuk membuat suasana yang tadinya tegang karena debu menjadi cair seketika.

Interaksi ini semakin hidup dengan adanya julukan-julukan akrab. Ada yang dipanggil "Lawyer" atau kuasa hukum dalam nada candaan, memberikan warna tersendiri di tengah bapak-bapak yang sedang sibuk memegang tang dan obeng. Di tengah jeda, momen "ngombe bareng" menjadi ritual yang sakral. Menyeruput teh jahe hangat sambil duduk melingkar di lantai masjid memberikan rasa silir di hati—sebuah kebersamaan lintas generasi yang sulit ditemukan dalam hiruk-pikuk pekerjaan sehari-hari.

Kejutan paling menarik muncul saat takmir mulai memeriksa kondisi kipas angin yang sudah "seror" alias jalannya lambat. Di sinilah muncul inisiatif organik yang luar biasa: sidang lelang kipas mendadak. Tanpa perlu rapat formal yang bertele-tele, semangat kedermawanan muncul begitu saja di tempat.

"Njaluk piro? Njaluk piro?" (Minta berapa?) tanya salah satu takmir dengan nada menantang yang jenaka. Uang tunai pun berpindah tangan. Angka 50.000 rupiah pun disepakati sebagai infak spontan untuk menambah biaya perbaikan atau penggantian kipas agar masjid kembali terasa silir bagi para jamaah. Kesepakatan itu dikukuhkan dengan sebuah "salaman" atau jabat tangan yang mantap—sebuah simbol komitmen tanpa kertas. Di sini, Pak Abdul Rokhimin selaku bendahara sigap mencatat setiap "kredit" atau sumbangan yang masuk, menunjukkan betapa transparansi dan kepercayaan adalah fondasi utama komunitas ini.

Pemandangan paling inspiratif hari itu adalah melihat para tokoh senior yang tetap bersemangat turun tangan. Sosok seperti Pak Mantan Ketua dan takmir senior lainnya tidak hanya duduk memberikan instruksi. Mereka ikut berkeringat, memanjat tangga, dan bergelut dengan kabel listrik. Inilah semangat "tua-tua keladi"—semakin tua, semangat pengabdiannya semakin menjadi-jadi.

Keberagaman keahlian yang muncul sangatlah mengagumkan. Dari pensiunan yang ahli kelistrikan hingga mereka yang paham detail teknis mesin kipas, semuanya bersatu. Mereka adalah teladan nyata bahwa kontribusi bagi lingkungan tidak mengenal batas jabatan atau usia. Bagi mereka, membersihkan masjid adalah cara untuk tetap relevan dan bermanfaat bagi sesama, sebuah bentuk pengabdian yang melampaui ego pribadi.

Setelah debu terakhir disapu dan kipas-kipas kembali berputar kencang, yang tersisa di masjid kita bukan sekadar bangunan yang bersih mengkilap. Gotong royong hari itu telah merawat memori kolektif kita melalui piala-piala lama, menyegarkan hubungan sosial lewat candaan "Dinasti Ming," dan menghidupkan kembali semangat filantropi organik melalui lelang kipas yang spontan.

Masjid kembali menjadi titik temu yang hangat, tempat di mana ikatan sosial diperkuat di sela-sela kabel yang semrawut. Kejutan-kejutan kecil ini mengingatkan kita bahwa setiap sudut lingkungan kita menyimpan cerita unik yang menunggu untuk ditemukan kembali. Kapan terakhir kali Anda menemukan "kejutan" atau cerita yang menyentuh hati di tengah komunitas Anda sendiri?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar