Tradisi Ruwahan adalah ritual keagamaan dan budaya yang dilakukan oleh masyarakat Jawa untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada bulan Ruwah dalam kalender Jawa, yang bertepatan dengan bulan Sya'ban dalam kalender Hijriah. Secara filosofis, Ruwahan berasal dari kata Arwah, yang berarti mendoakan para leluhur atau kerabat yang telah meninggal dunia agar mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhan. Meskipun pelaksanaannya bisa berbeda-beda di setiap daerah, Ruwahan umumnya terdiri dari tiga kegiatan utama yakni :
- Nyekar (Ziarah Kubur), mendatangi makam keluarga untuk membersihkan pusara, menabur bunga, dan memanjatkan doa. Ini adalah simbol penghormatan dan pengingat akan kematian.
- Kerja bakti membersihkan lingkungan makam desa atau tempat ibadah secara gotong royong.
- Kenduri atau sedekahan. Acara makan bersama yang diawali dengan doa bersama (tahlilan). Keluarga biasanya membuat masakan khusus untuk dibagikan kepada tetangga sebagai bentuk rasa syukur dan sedekah.
Bulan Ruwah tahun 2026 kali ini, bertempat di rumah Ibu Suharni Setyoatmojo, diselenggarakan kenduren putaran pertama. Acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 31 Januari 2026 pukul 20.00 WIB (bada Isya). Inti kegiatan ini adalah pembacaan dzikir pinuwunan kirim doa yang dipimpin oleh Bpk. Rudi Santosa. Kirim doa ditujukan bagi arwah leluhur keluarga besar Ibu Suharni Setyoatmojo. Terlihat hadir malam tersebut tidak begitu banyak. Menurut beberapa sumber, hal ini karena bersamaan dengan kenduren di Bakalan yang dihadiri beberapa bapak-bapak warga Ngentak.
![]() |
| Foto : Heru Sudjanto |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar